PENDAHULUAN
1.
Latar
Belakang
Pendidikan
merupakan suatu elemen penting dalam kemajuan bangsa. Pendidikan adalah suatu
proses transfer ilmu yang sebelumnya tidak mengerti menjadi mengerti. Dalam hal
ini peran pendidikan sangat penting dalam memajukan kualitas setiap
induvidu/rakyat yang merupakan sebagai pelaku bargabagai sector yang ada di
tengah-tangah masyarakat. Hal itu membuat banyak sebagian orang menciptakan
berbagai metode pendidikan yang sekiranya cocok untuk perkembangan zaman.
UNESCO
sebagai lembaga pendidikan dunia juga terus berinovasi dalam memajukan dunia
pendidikan yang ada di berbagai negara, dalam hal ini UNESCO membuat konsep
yaitu empat pilar pendidikan. Ini ditujukan untuk memahami proses pendidikan
yang kita jalani dapat terarah dan sistematis. Dalam empat pilar pendidikan
UNESCO ini dibahas menganai proses belajar dari awal hingga jenjang berikutnya.
Dalam
rangka untuk memajukan kualitas Sumber Daya Manusia, IKIP Budi Utomo menciptakan Lima Pilar
Kebudiutamaan. Hal ini ditujukan kepada SDM yang telah memiliki kemampuan
intelektual tidak hanya mengerti namun juga bermanfaat bagi yang lain.
2.
Rumusan
Masalah
1. Apa
saja empat pilar menurut UNESCO itu?
2. Apa
saja Lima pilar Kebudiutamaan?
3. Apa
saja komparasi antara empat pelar pendidikan menurut UNESCO dengan Lima Pilar
Kebudiutamaan?
3. Tujuan Penulisan
1. Untuk
mengetahui empat pilar menurut UNESCO
itu
2. Untuk
mengetahui Lima pilar Kebudiutamaan
3. Untuk
mengetahui komparasi antara empat pelar
pendidikan menurut UNESCO dengan Lima Pilar Kebudiutamaan
4.
Metode Penulisan
Penulisan makalah
ini menggunakan metode pustaka. Metode pustaka menurut M. Nazir dalam bukunya
yang berjudul ‘Metode Penelitian’ mengemukkan bahwa yang dimaksud dengan:
“Studi Pustaka” adalah teknik pengumpulan data dengan mengadakan studi
penelaahan terhadap buku-buku, literatur -literatur,
catatan-catatan, dan laporan-laporan yang ada hubungannya dengan masalah yang
dipecahkan.”(Nazir,1988: 111).[1]
Selanjutnya menurut
Nazir (1998 : 112) studi kepustakaan merupakan langkah yang penting dimana
setelah seorang peneliti menetapkan topic penelitian, langkah selanjutnya
adalah melakukan kajian yang berkaitan dengan teori yang berkaitan dengan topik
penelitian. Dalam pencarian teori, peneliti akan mengumpulkan informasi
sebanyak-banyaknya dari kepustakaan yang berhubungan. Sumber-sumber kepustakaan
dapat diperoleh dari: buku, jurnal, majalah, hasil-hasil penelitian (tesis dan
disertasi), dan sumber-sumber lainnya yang sesuai (internet, koran dll). Bila kita telah memperoleh kepustakaan yang relevan,
maka segera untuk disusun secara teratur untuk dipergunakan dalam penelitian.
Oleh karena itu studi kepustakaan meliputi proses umum seperti:
mengidentifikasikan teori secara sistematis, penemuan pustaka, dan analisis
dokumen yang memuat informasi yang berkaitan dengan topik penelitian.
Untuk melakukan
studi kepustakaan, perpustakaan merupakan suatu tempat yang tepat guna
memperoleh bahan-bahan dan informasi yang relevan untuk dikumpulkan, dibaca dan
dikaji, dicatat dan dimanfaatkan (Roth 1986). Seorang peneliti hendaknya
mengenal atau tidak merasa asing dilingkungan perpustakaan sebab dengan
mengenal situasi perpustakaan, peneliti akan dengan mudah menemukan apa yang
diperlukan. Untuk mendapatkan informasi yang diperlukan peneliti mengetahui
sumber-sumber informasi tersebut, misalnya kartu katalog, referensi umum dan
khusus, buku-buku pedoman, buku petunjuk, laporan-laporan penelitian, tesis,
disertasi, jurnal, ensiklopedi, dan bahan-bahan khusus lain. Dengan demikian
peneliti akan memperoleh informasi dan sumber
yang tepat dalam waktu yang singkat.
PEMBAHASAN
1.
Pendidikan
menurut UNESCO
Pendidikan pada dasarnya adalah
proses komunikasi yang didalamnya mengandung transformasi pengetahuan,
nilai-nilai dan ketrampilan-ketrampilan, di dalam dan di luar sekolah yang
berlangsung sepanjang hayat, dari generasi ke generasi (Dwi Siswoyo, 2008: 25).
Dari pengertian di atas dapat diartikan bahwa hampir dari seluruh kegiatan
manusia yang bersifat positif dapat dianggap bahwa mereka telah melakukan
proses pendidikan. Tujuan pendidikan secara luas antara lain adalah untuk
meningkatkan kecerdasan, membentuk manusia yang berkualitas, terampil, mandiri,
inovatif, dan dapat meningkatkan keimanan dan ketakwaan. Oleh karena itu,
pendidikan sangat diperlukan oleh manusia untuk dapat melangsungkan kehidupan
sebagai makhluk individu, sosial dan beragama.
UNESCO merupakan organisasi yang bergerak dalam
bidang pendidikan dunia. Sejalan dengan berbagai perubahan zaman, UNESCO
berupaya meningkatkan kualitas suatu bangsa tidak ada cara lain kecuali melalui
peningkatan mutu pendidikan. Berangkat dari pemikiran itu UNESCO mencanangkan
empat pilar pendidikan sekarang dan masa depan yaitu:
·
Learning to know (Belajar
Untuk Mengetahui)
Learning to know mengandung
makna bahwa belajar tidak hanya berorientasi pada produk atau hasil belajar,
akan tetapi juga harus berorientasi pada proses belajar. Dalam proses belajar,
peserta didik bukan hanya menyadari apa yang harus di pelajari tetapi juga
diharapkan menyadari bagaimana cara mempelajari apa yang seharusnya dipelajari.
Kesadaran tersebut, memungkinkan proses belajar tidak terbatas di sekolah saja,
akan tetapi memungkinkan peserta didik untuk belajar secara berkesinambungan.
Inilah hakekat dari semboyan "belajar sepanjang hayat". Apabila hal
ini dimiliki peserta didik, maka masyarakat belajar (learning society) sebagai
salah satu tuntutan global saat ini akan terbentuk. Oleh sebab itu belajar
untuk mengetahui juga dapat bermakna belajar berpikir karena setiap individu
akan terus belajar sehingga dalam dirinya akan tumbuh kemauan dan kemampuan
untuk berpikir. Learning to know, dengan
memadukan pengetahuan umum yang cukup luas dengan keseempatan untuk mempelajari secara mendalam
pada sejumlkah kecil mata pelajaran.
·
Learnning to do (Belajar
Untuk Melakukan)
Learnning to do mengandung
makna bahwa belajar bukanlah sekedar mendengar dan melihat untuk mengakumulasi
pengetahuan, akan tetapi belajar dengan dan untuk melakukan sesuatu aktivitas
dengan tujuan akhir untuk menguasai kompetensi yang diperlukan dalam menghadapi
tantangan kehidupan. Kompetensi akan dapat dimiliki oleh pesrta
didik apabila diberikan kesempatan untuk belajar dengan melakukan apa yang
harus dipelajarinya secara langsung. Dengan demikian learning to do juga
berarti proses pembelajaran berorientasi pada pengalaman langsung (learning by
experience
). Learning to do, untuk memperoleh bukan hanya suatu keterampilan kerja tetapi juga lebih luas sifatnya, kompetensi untuk berurusan dengan banyak situasi dan bekerja dalam tim. Ini juga belajar berbuat dalam konteks pengalaman kaum muda dalam berbagai kegiatan sosial dan pekerjaan yang mungkin bersifat informal, sebagai akibat konteks lokal atau nasional, atau bersifat formal melibatkan kursus-kursus, program bergantian antara belajar dan bekerja.
). Learning to do, untuk memperoleh bukan hanya suatu keterampilan kerja tetapi juga lebih luas sifatnya, kompetensi untuk berurusan dengan banyak situasi dan bekerja dalam tim. Ini juga belajar berbuat dalam konteks pengalaman kaum muda dalam berbagai kegiatan sosial dan pekerjaan yang mungkin bersifat informal, sebagai akibat konteks lokal atau nasional, atau bersifat formal melibatkan kursus-kursus, program bergantian antara belajar dan bekerja.
·
Learning to
be (Belajar Untuk Menjadi)
Learning to
be mengandung arti bahwa belajar adalah proses untuk
membentuk manusia yang memiliki jati dirinya sendiri. Oleh karena itu, pendidik
harus berusaha memfasilitasi peserta didik agar bealajar mengaktualisasikan
dirinya sendiri sebagai individu yang berkepribadian utuh dan bertanggung jawab
sebagai individu sekaligus sebagai anggota masyarakat. Dalam pengertian ini
terkandung makna bahwa kesadaran diri sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa yakni
makhluk hidup yang memiliki tanggung jawab sebagai khalifah serta menyadari
akan segala kekurangan dan kelemahannya. Learning to be, sehingga dapat
mengembangkan kepribadian lebih baik dan mampu bertindak mandiri, membuat
pertimbangan dan rasa tanggung jawab
pribadi yang semakin besar, ingatan, penalaran, rasa estetika, kemampuan fisik,
dan keterampilan berkomunikasi.
·
Learning to
live together (Belajar Untuk Hidup Bersama)
Learning to
live together adalah belajar untuk bekerjasama melalui proses
bekerjasama. Hal ini sangat diperlukan sesuai dengan tuntutan kebutuhan dalam
masyarakat global dimana manusia baik secara individual maupun secara kelompok
tidak mungkin dapat hidup sendiri atau mengasingkan diri dari masyarakat
sekitarnya. Dalam hal ini termasuk juga pembentukan masyarakat demokratis yang
memahami dan menyadari akan adanya perbedaan pandangan antar individu. Learning to live together, learning to live with others ,
dengan jalan mengembangkan pengertian
akan orang lain dan apresiasi atas interdependensi—melaksanakan
proyek-proyek bersama dan belajar memenej konflik—dalam semangat menghormati
nilai-nilai kemajemukan, saling memahami dan perdamaian.
2 Konsep Pendidikan
Kebudiutamaan
Konsep Pendidikan Kebudiutamaan yang di usung oleh Institut Keguruan Ilmu
Pengetahuan Budi Utomo Malang memiliki 5 pilar diantaranya:
·
Kemanfaatan
Diartikan
sebagai proses yang menugarah kepada setiap insan (manusia) memiliki
kemanfaatan pada sesama manusia dan juga alam sekitar yang ada di muka bumi
ini. Bukan sekedar memberikan manfaat bagi diri sendiri atau pun keluarga. Arti
kemanfaatan disini merupakan memberikan manfaat sebesar-besarnya dan
seluas-luasnya.
- Kepedulian
Kepedulian yang
diharapkan adalah setiap insan peduli dengan segala sesuatu yang terlihat
kurang baik/sesuai dengan mestinya. Setiap manusia haruslah memiliki tingkat
kepekaan dan kepedulian yang tinggi. Memingat segala yang ada di muka bumi ini
saling membutuhkan satu dengan yang lainnya.
- Kepatuhan
Kepatuhan yang
diharapkan kepada setiap insan adalah kepatuhan kepada semua aspek hukum atau
norma yang berlaku. Dari yang paling
penting kepatuhan terhadap hukum atau aturan Agama yang telah Tuhan berikan,
sampai kepatuhan yang lebih kecil lingkupnya yakni kepatuhan dengan aturan yang
ada di kehidupan rumah tangga.
- Kepatutan
Kepatutan atau
biasa diartikan sebagai kepantasan merupakan suatu sikap yang sesuai dengan
mestinya. Setiap manusia diharapkan bisa melakukan segala suatu tindakan secara
pantas, dan tidak berlebihan. Agar apa yang kita lakukan bisa memberikan dampak
yang positif kepada sesamanya yang ada disekitar dan bisa menjadi sebagai
contoh bagi generasi yang lebih muda.
- Ke-Indonesia-an
Jiwa
ke-Indonesia-an ini merupakan suatu rasa yang harus di miliki setiap warga
kenegaraan Indonesia. Pasalnya rasa nasionalisme ini harus di tumbuhkan karena
adanya bangsa hari ini adalah buah dari perjuangan pejuang-pejuang bangsa yang
tidak lain adalah leluhur kita. Jiwa ke-Indonesia-an ini bisa tumbuh karena
kita mengetahui sejarah yang terjadi di bangsa ini sebelum negara yang kita
jajaki merdeka.
3.
Komparasi Pendidikan Kebudiutamaan Dengan Empat Pilar
Pendidikan UNESCO
Empat
Pilar Pendidikan UNESCO
|
Lima
Pilar Kebudiutamaan
|
Empat Pilar Pendidikan yang diterapkan oleh UNESCO
yaitu Learning to know, Learning to do, Learning to be, dan Learning to live
together. Dalam hal ini UNESCO membuat tahapan pendidikan yang dijalani
setiap orang dari awal mengetahu sesuatu yang belum diketahui sampai mampu
hidup berdampingan dengan orang lain secara harmonis.
Dalam hal ini empat pilar ini hanya di jabarkan
secara garis besar, dan empat pilar ini hanya memberi pengertian proses
belajar yang terjadi dan tidak membahas aspek kehidupan yang terjadi di
masyarakat. Dalam pilar ke empat yaitu “Learning live together” hanya menjelaskan
belajar hidup bersama. Dalam kehidupan nyata banyak hidup orang hidup bersama
namun tidak memiliki kebersamaan (ikatan yang baik antar manusia).
Pilar pendidikan ini menjelaskan tahapan seseorang
dalam menjalani pendidikan.
|
Lima pilar kebudiutamaan yang diterapkan IKIP Budi
Utomo yaitu Kemanfaatan, Kepedulian, Kepatuhan, Kepatutan, dan Keindonesiaan.
Ke-lima pilar ini menjelaskan pentingnya kesadaran
dalam menjadi manusia kepada sesama manusia dan yang ada disekitarnya. Hal
ini mewujudkan manusia yang berilmu/berpendidikan bisa bermanfaat bagi yang
lain juga, tidak hanya bagi diri sendiri. Lima pilar ini menunjukkan peran
pendidikan dalam kehidupan bermasyarakat dan beragama. Ini sama halnya dengan
pilar ke lima pada pilar pendidikan menurut UNESCO yaitu “Learning to live
together”, namun pada pilar ke lima tersebut tidak dijelaskan bagaimana
seharusnya untuk bisa hidup berdampingan dengan masyarakat.
Lima pilar kebudiutamaan menjelaskan ketaatan kita
terhadap norma kemanusiaan hingga norma menaati hukum yang berlaku pada
Negara.
|
PENUTUP
1. Kesimpulan
Pendidikan merupakan
suatu elemen penting dalam kemajuan bangsa. Pendidikan merupakan suatu proses
transfer ilmu yang sebelumnya tidak mengerti menjadi mengerti. Pendidikan
pada dasarnya adalah proses komunikasi yang didalamnya mengandung transformasi
pengetahuan, nilai-nilai dan ketrampilan-ketrampilan, di dalam dan di luar
sekolah yang berlangsung sepanjang hayat, dari generasi ke generasi.
Pentingnya pendidikan membuat
beberapa ahli merumuskan konsep-konsep pendidikan yang dipikir penting demi
kemajuaan pendidikan. Hal ini membuat UNESCO dan juga IKIP Budi Utomo Malang
membuat rumusan berupa pilar-pilar yang hakikatnya untuk memajukan dan
menyempurnakan pendidikan beserta pelaku pendidikan itu agar menjadi lebih baik
lagi.
2. Saran
Untuk
pelaku pendidikan Guru maupun Siswa sebaiknya mampu memanfaatkan pendidikan
yang telah diraih agar memiliki manfaat sebesar-besarnya bagi sesama manusia
beserta alam sekitar. Untuk semua elemen masyarakat sebaiknya tanamkan
pilar-pilar kebaikkan dari hal yang terkecil pada kehidupan sehari-hari.
DAFTAR RUJUKAN
·
http://phairha.blogspot.com/2012/01/studi-kepustakaan.html
diakses pada tanggal 4 Oktober 2014
·
http://dayanmaulana.blogspot.com/2010/06/empat-pilar-pendidikan-menurut-unesco.html
diakses pada tanggal 4 Oktober 2014






0 komentar:
Posting Komentar